BUDIDAYA JAMUR DATARAN RENDAH

Usaha Budidaya Jamur Umumnya Berlokasi Di Kawasan Dataran Tinggi, Sekurangnya Pada Ketinggian 700 Meter Di Atas Permukaan Laut (DPL) Serta Pada Suhu Dan Kelembaban Udara Tertentu. Namun Pola Budidaya Jamur Kayu Yang Dilakukan Perusahaan Jamur “Payung Manfaat” Mementahkan Teori Itu. Perusahaan Yang Berbasis Di Desa Sumberdiren, Kec. Garum, Kab. Blitar, Jawa Timur, Itu Mampu Memproduksi Jamur Kayu Di Kawasan Dataran Rendah. Pimpinan Perusahaan Jamur “Payung Manfaat”, Agung Hidayanto, Menjelaskan Kegiatan Usaha Tersebut Diawali Pada 1996 Dengan Pembudidayaan Jamur Jenis Merang. Bahan Bakunya Mengandalkan Pasokan Dari Perusahaan Penyedia Bibit Jamur Di Jawa Tengah Dan Jawa Barat. “Karena Budidaya Jamur Merang Kurang Menguntungkan, Maka Kami Lantas Beralih Pada Budidaya Jamur Kayu, Terutama Jenis Tiram, Kuping, Shitake Dan Ling Zhi,” Ujar Pria 33 Tahun Itu, Belum Lama Ini. Cara Yang Dilakukannya Adalah Mencari Referensi Pola Budidaya Jamur Dari Buku, Studi Banding Ke Sejumlah Daerah Maupun Belajar Secara Langsung Ke Petani Jamur. Setelah Terampil Membudidayakan Budidaya Jamur, Agung Masih Harus Memutar Otak Lagi Bagaimana Caranya Agar Jamur Tetap Tumbuh Kendati Dibudidayakan Di Kawasan Dataran Rendah Yang Umumnya Berhawa Panas Seperti Di Desa Sumberdiren, Kabupaten Blitar Yang Hanya Berada Pada Ketinggian 110 Meter DPL. “Usaha Budidaya Jamur Yang Kami Lakukan Mengacu Pada Pola Budidaya Yang Berwawasan Lingkungan, Semua Bahan Untuk Proses Produksi Dari Bahan-Bahan Organik,“ Katanya. Faktor Lain Pendukung Usaha Ini Adalah Ketersediaan Bahan Baku Utama Yang Sangat Melimpah, Khususnya Untuk Serbuk Gergaji Kayu. Pengadaan Bahan Baku Itu Tidak Perlu Mengeluarkan Biaya, Karena Pihak Penggergajian Kayu Juga Diuntungkan Yakni Tanpa Membuang Limbah Tersebut. Usaha Menguntungkan Disebabkan Merupakan Usaha Yang Langka Saat Itu, Harga Jual Jamur Pun Tergolong Tinggi. Agung Dapat Dengan Mudah Menentukan Harga. Contohnya Jamur Tiram, Harga Per Kilogram Segar Adalah Rp 25.000, Jamur Kuping Rp 100.000/Kilogram Kering. Sementara Untuk Jamur Ling Zhi Bisa Mencapai Rp 1,5 Juta/Kilogram Kering. Hingga Saat Ini Pun Harga Jual Komoditas Tersebut Tidak Mengalami Penurunan Tajam, Meskipun Pembudidayaan Jamur Telah Meluas. “Meski Dalam Beberapa Tahun Mengalami Penurunan Hingga 50%, Namun Usaha Budidaya Jamur Tetap Untung Dan Tetap Menjadi Usaha Yang Menjanjikan,“ Jelas Agung. Namun Dia Enggan Merinci Berapa Volume Produksi Maupun Omzet Yang Diraihnya Setiap Bulan. Yang Jelas, Untuk Memantapkan Posisinya Di Bisnis Jamur, Agung Pada 2000 Membangun Merek Dagang Payung Manfaat Dengan Nomor DOO 21236. Dalam Waktu Bersamaan, Terbit Pula Sertifikat Dari Dinas Kesehatan Setempat Untuk Proses Dan Hasil Produknya Berupa Jamur Segar, Olahan Dan Jamur Kering. Sertifikat Tersebut Dinilai Penting Untuk Meningkatkan Kepercayaan Pasar, Karena Budidaya Jamur Yang Dikembangkannya Memenuhi Kriteria Sebuah Usaha Yang Menjamin Keamanan Produk. Adapun Pemasarannya Secara Bertahap Merambah Ke Pasar Nasional Melalui Dukungan Publikasi Dari Berbagai Jenis Media, Cetak, Elektronik Maupun Dunia Maya. Ekspansi Pasar Yang Dilakukan Berupa Pengembangan Plasma Baik Untuk Daerah Pulau Jawa Maupun Luar Jawa. Saat Ini Plasma Yang Eksis Adalah Di Daerah Makasar, Medan, Lampung, Palembang, Nusa Tenggara Timur, Palangkaraya, Samarinda, Kota Baru, Banjarmasin, Pulau Buru Serta Bali. Tahap Berikutnya Disiapkan Ekspansi Ke Bukit Tinggi, Jambi Dan Batam (Faisal).
Thu, 25 Jun 2009 @10:30