|
|

Esensi pariwisata adalah menyenangkan mata, telinga, hidung, hingga hati. Untuk kesenangan itu, orang mau menabung dan rela membelanjakan uangnya untuk bisa pergi ke sejumlah kawasan yang indah di Indonesia. Lalu, mengapa pariwisata belum jadi fokus utama pembangunan ekonomi negeri ini?
Sayangnya, kesadaran kolektif untuk melirik ke sektor yang secara riil menggelontorkan devisa ke masyarakat ini masih minim.
Tahun 2008, Indonesia hanya bisa menarik wisatawan mancanegara sekitar 7 juta orang. Padahal, Malaysia dapat menarik 12 juta wisman dan Singapura 8 juta wisman.
Hal ini mendorong pemerintah menempatkan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di bawah Kementerian Koordinator Perekonomian, tidak hanya di Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
Program pengembangan wisata tidak lagi sporadis, tetapi fokus pada titik-titik yang berpotensi menarik wisatawan. Tahun ini, giliran Provinsi Jambi yang jadi pusat perhatian.
Namun, Jambi dan banyak provinsi lain di Indonesia masih memiliki berbagai kelemahan. Pertama, belum ada produk yang spesifik yang dikembangkan. Di Jambi, misalnya, mengembangkan lempok durian sebagai cendera mata. Padahal, produk sejenis, yang kemasannya lebih menarik, ada di Riau.
”Jambi bisa mengembangkan Kuala Tungkal untuk wisata belanja dan penghubung pembeli Singapura dengan barang dari Bengkulu dan Lampung,” kata Edy Putra Irawadi, Deputi Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan Kementerian Koordinator Perekonomian.
Kedua, usaha mikro, kecil, dan menengah dikungkung prosedur perizinan usaha yang rumit. Padahal, pengembangan wisata membutuhkan dukungan UMKM.
”Jangan memaksa UMKM mengurus berbagai perizinan. Itu sama dengan meminta UMKM melanggar aturan. Mereka tak akan sanggup,” ujar Edy.
Ketiga, kelemahan pembiayaan. Keempat, kelemahan keamanan, dan kelima, keterbatasan promosi.
Pemerintah daerah, mulai dari gubernur, kepala dinas pariwisata, hingga DPRD, harus sepakat menetapkan keberpihakan pada pariwisata. Hal itu, antara lain, dengan menetapkan anggaran setara 64 persen dari total belanja dalam APBD. Menetapkan daerah yang dijadikan ikon wisata setahun ke depan. Jambi mendorong tiga kota sebagai ikon wisata
tahun anggaran 2009-2010, yakni Kabupaten Kerinci, Kota Jambi, dan Kabupaten Muaro Jambi.
Kerinci dengan keindahan alamnya. Kota Jambi unggul pada perdagangan, dan Muaro Jambi dengan Candi Muaro Jambi sudah dikenal pesiar asing, terutama para biksu dari Thailand yang kerap berziarah.
Data Kantor Menko Perekonomian menyebutkan, di seluruh Indonesia tersedia 1.169 bangunan dengan 112.079 kamar dan 174.321 tempat tidur, tersebar di 33 provinsi. Sayangnya penyebaran sarana akomodasi itu tidak merata.
Padahal, dari bisnis pariwisata saja pada 2001 dihasilkan devisa 5,296 miliar dollar AS. Tahun 2008 sebanyak 7,377 miliar dollar AS. Rupiah yang dibelanjakan para pelancong domestik pun meningkat, dari Rp 58,71 triliun (2001) menjadi Rp 123,17 triliun pada 2008.
Itu belum puncak dari industri pariwisata. Masih banyak potensi dan kemolekan negeri ini yang belum terungkap. Untuk menjadikan kemolekan itu ”layak jual”, diperlukan usaha keras. Infrastruktur, misalnya, masih jadi masalah serius. Persoalan bukan hanya dana. ”Seberapa besar pun anggaran yang dialirkan, tidak berarti tanpa bantuan pemerintah daerah,” kata Direktur Perencanaan Departemen Pekerjaan Umum Taufik Widjoyono.
Wed, 26 Aug 2009 @17:23mulkanling muara telita |
Thu, 27 Aug 2009 @12:27Harapan Tani Group |
Thu, 19 Nov 2009 @19:25S Abdullah H |
Copyright © 2012 Teddy Kartiwa · All Rights Reserved