|
|

JAKARTA - Tim Big Bang dari Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil memenangkan Imagine Cup 2009 untuk kategori Mobile Device Award.
Tim yang terdiri dari David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas Putranto, Samuel Simon ini memenangkan atas proyeknya yang diberi nama MOSES (Malaria Observation System and Endemic Surveillance).
Aplikasi ini menggabungkan teknologi client runtime dengan aplikasi di PDA untuk melakukan diagnosa dan analisis terhadap pasien yang diduga terkena malaria secara cepat. Solusi ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang berada di daerah terpencil agar dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara cepat dan tepat.
Seperti yangd dikutip melalui keterangan resminya, Jumat (10/7/2009), Big Bang menciptakan sebuah virtual character (avatar) bernama Marceline, yang dapat membantu petugas kesehatan. Pada saat pendiagnosaan tersebut, Marceline akan bertanya kepada pasien beberapa hal sehubungan penyakit malaria, dengan menggunakan teknologi voice recognition.
Setelah seluruh data yang berhubungan dengan anamnesa tersebut didapat, petugas kesehatan juga dilengkapi dengan alat yang bernama PDAscope yang terdiri dari sebuah modifikasi microscope plus PDA. PDAscope ini menyerupai sebuah microscope asli yang dibuat dengan bahan-bahan yang murah. Hal tersebut merupakan pertimbangan dari Big Bang atas faktor ekonomis pada implementasi solusi ini.
PDAscope ini nantinya akan dapat menjadi alat pelengkap agar kamera yang berada pada PDA yang dapat meneropong sampel darah yang diambil dari tubuh pasien. Setelah PDA tersebut merekam hasil gambar dari sampel darah, petugas kesehatan dapat mengirimkan gambar sampel darah tersebut ke pusat kesehatan yang berada pada lokasi yang jauh dari tempat tersebut.
Moda komunikasi yang ditentukan untuk melakukan transmisi data tersebut adalah dengan menggunakan teknologi 3G. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa telecommunication provider di Indonesia akan segera memperluas daerah jangkauan layanan data pada lokasi-lokasi yang terpencil.
Setelah itu, sistem akan melakukan analisa terhadap butiran-butiran darah yang dimaksud dengan melakukan pattern recognition atas parameter-parameter yang telah ditentukan sebelumnya.
Proses penghitungan butiran darah tersebut merupakan sebuah kemajuan teknologi yang dibantu oleh neural network algorithm, dimana metoda tersebut membantu mempercepat penentuan hasil apakah sebuah sampel darah tersebut terjangkit penyakit malaria atau tidak. Saat ini untuk menentukan diagnosa masih menggunakan penghitungan manual yang cenderung memiliki tingkat kesalahan tinggi.
Segera setelah sistem memperoleh hasil dari pemeriksaan butiran darah tersebut, sistem akan otomatis mengirimkan hasil kepada petugas kesehatan yang masih berada di lapangan. (srn)
Copyright © 2012 Teddy Kartiwa · All Rights Reserved