kud-harapantani.com
RSS Feed
Subscribes

BI rate kembali turun 25 basis poin ke 7,25%

image

INILAH.COM, Jakarta - Sektor properti tampaknya masih harus menunggu untuk bangkit meski BI rate kembali turun 25 basis poin ke 7,25%. Kuncinya adalah respon cepat perbankan menurunkan suku bunga. Investor juga masih menunda pembelian hingga usai pemilu.

Anton Sitorus, Kepala Riset Jones Lang LaSalle Indonesia mengatakan pengaruh positif dari pemangkasan BI rate terhadap sektor properti sangat tergantung pada sejauh mana perbankan menurunkan suku bunganya. Masalahnya, perbankan masih belum bersedia menurunkan suku bunganya.

"Jadi, kata kuncinya masih pada suku bunga perbankan," tandas Anton, kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (6/5). Anton mengatakan, saat ini tidak ada hubungan antara BI rate dengan suku bunga perbankan karena terjadi decoupling. Keadaan ini, menurut penilaian Anton merupakan anomali.

Ia juga memaparkan, penurunan suku bunga berpulang kepada masing-masing bank. Hingga saat ini pemerintah belum membuat langkah yang memungkinkan perbankan menurunkan suku bunganya.

Lebih lanjut, Anton mengatakan rata-rata suku bunga perbankan saat ini masih berada di atas 14%. Jika suku bunga perbankan berada di bawah 13%, berarti sudah sangat baik karena hampir sama dengan level suku bunga properti di 2004 yang berada di kisaran 10% hingga 12%. Namun ada juga yang 13% dan bahkan di bawah 10%.

Untuk saat ini, penurunan suku bunga perbankan tidak signifikan pengaruhnya terhadap properti. Apalagi, pelaku bisnis masih menahan diri berinvestasi di sektor properti hingga Pemilu 2009 usai. "Kita mengatakan tidak ada hubungannya antara pemilu dengan sektor properti, hanya saja bagi sebagian investor ada kehati-hatian juga," imbuhnya.

Mereka, khawatir salah timing pembelian. Ditakutkan setelah pemilu ada sesuatu yang tak terduga. "Jadi memang sebagian ada yang menahan pembeliannya baik untuk investasi maupun untuk digunakan sendiri," tukasnya.

Gairah pelaku bisnis diprediksi Anton akan kembali meningkat setelah diketahui siapa yang jadi presidennya. Pasalnya, pemilu saat ini sedikit banyak mempengaruhi perubahan ekonomi dengan makin banyaknya kandidat-kandidat capres/cawapres. "Paling tidak, nanti pelaku bisnis akan melihat siapa yang akan memimpin," ujarnya.

Sedangkan dari sisi fundamental ekonomi, lanjut Anton, banyak kalangan yang memperkirakan akhir 2009 sektor properti akan kembali bergairah. Pada saat itu, diharapkan suku bunga perbankan sudah turun.

Anton mengakui sebenarnya saat ini potensi bergairahnya pasar properti sudah ada. Tapi, pelaku usaha masih bersikap hati-hati. "Pada kuartal ketiga menjelang keempat mungkin akan ada permintaan yang meningkat," pungkasnya.

Sementara itu ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani mengatakan Meskipun BI rate sudah berada di level 7,25%, perbankan masih enggan menurunkan suku bunga karena terkendala dua faktor.

Salah satunya adalah karena pemerintah tidak mendukung efektivitas penurunan suku bunga dilihat dari sukuk yang memberikan yield 11-12%. "Selama ini belum efektif karena di satu sisi pemerintah tidak mendukung dilihat dari sukuk yang memberikan bunga 11-12%," katanya.

Selain itu, perbankan sendiri yakni bank menengah ke bawah masih kesulitan likuiditas. Hal ini mengakibatkan bank-bank tersebut tidak bisa langsung menurunkan suku bunga, bahkan spread dengan bank besar mencapai 8%. "Bank besar memberikan suku bunga 8% dan bank menengah ke bawah masih ada yang 16%," ucapnya. [E1]

Sun, 4 Oct 2009 @20:19


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

KONTAK
image

Ketua KUD Harapantani

08117406397 / 0745 9270170


Jalan Brawijaya Simpang KUD Singkut II | Telp. / Fax 0745-9270170
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
Anda Ingin Punya Website Nama Domain Sendiri?

Cek Nama Domain ?

Kategori
Arsip

Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
SLINK
Admin
Website Terkait
Jumlah Pengunjung

FP Graha Arta Prima
image